POHUWATO, EKOPOLIS.CO.ID – Polemik terkait perjuangan sejumlah anggota legislatif yang menyuarakan nasib penambang rakyat di Pohuwato terus memicu perdebatan di ruang publik. Menanggapi beredarnya video dan pernyataan yang mengatasnamakan warga Pohuwato, Rusli Laki, salah seorang anak penambang di daerah tersebut, menilai ada upaya membangun narasi yang tidak mewakili kondisi sebenarnya di lapangan.
Rusli menegaskan bahwa munculnya pihak-pihak yang mengaku sebagai warga Pohuwato namun justru menyerang perjuangan legislator yang sedang menyuarakan aspirasi penambang patut dipertanyakan. Ia bahkan menduga ada oknum yang sengaja dimunculkan untuk membentuk opini yang sejalan dengan kepentingan tertentu.
“Dari beredarnya berita maupun video mengenai anggota legislatif dari Partai Gerindra yang sedang memperjuangkan hak rakyat, tiba-tiba muncul warga bodong yang mengatasnamakan masyarakat Pohuwato dan menanggapi pernyataan tersebut secara negatif,” ujar Rusli.
Menurutnya, narasi yang dibangun oleh oknum tersebut tidak mencerminkan realitas ekonomi masyarakat Pohuwato yang selama ini banyak bergantung pada aktivitas pertambangan rakyat.
“Kalau benar dia warga Pohuwato, seharusnya dia paham betul siklus ekonomi daerah ini berasal dari mana. Banyak keluarga yang hidup dari aktivitas pertambangan rakyat. Jadi jangan memutarbalikkan fakta di depan publik,” tegasnya.
Rusli juga menilai sikap tersebut justru memperlihatkan adanya kepentingan lain yang mencoba melemahkan perjuangan masyarakat kecil. Ia menyebut, pihak yang menyerang perjuangan rakyat justru lebih terlihat membela kepentingan oligarki daripada membela masyarakat.
Ia kemudian mengutip pandangan Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang menurutnya sangat relevan dengan situasi yang terjadi saat ini.
“Gus Dur pernah mengatakan bahwa yang terpenting dari politik adalah kemanusiaan. Hari ini ada orang yang sedang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan untuk rakyat kecil, tetapi ada juga yang mengaku warga Pohuwato justru sibuk memperjuangkan uang sakunya sendiri,” kata Rusli.
Sebagai anak penambang, Rusli mengaku memahami langsung bagaimana kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari sektor tersebut. Karena itu ia meminta agar kritik yang disampaikan kepada pihak yang sedang memperjuangkan nasib penambang dilakukan secara terbuka dan bertanggung jawab.
“Kalau memang berani, tampilkan identitas secara jelas dan tunjukkan argumen yang berbasis ilmu pengetahuan. Jangan hanya bersembunyi di belakang layar seperti pencuri, lalu membuat narasi yang menyesatkan publik,” pungkasnya.
Rusli berharap polemik yang terjadi tidak mengaburkan persoalan utama, yakni bagaimana negara dan pemerintah dapat menghadirkan solusi nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat penambang rakyat di Pohuwato.



















