PARIMO, EKOPOLIS.CO.ID Tragedi tewasnya seorang penambang emas di wilayah Parigi Moutong (Parimo) memicu reaksi keras dari elemen kepemudaan. Melalui pernyataan tegas, Gerakan Muda yang diwakili oleh Hairul Anwar, melayangkan kritik tajam terhadap kinerja Kapolres Parimo yang dinilai gagal dalam menjaga nyawa rakyat sipil di wilayah konflik agraria dan pertambangan.
Koordinator Gerakan Muda, Hairul Anwar menilai bahwa tewasnya penambang tersebut bukanlah sekadar insiden teknis di lapangan, melainkan cerminan dari lemahnya kendali operasional dan kebijakan yang tidak memihak pada keselamatan rakyat kecil.
”Kami tidak bisa diam melihat nyawa melayang seolah-olah itu hal biasa. Kapolres Parimo harus bertanggung jawab secara penuh. Jika fungsi pengamanan dan perlindungan warga saja gagal dilakukan, maka patut dipertanyakan apa gunanya jabatan tersebut dipertahankan,” ujar Hairul Anwar dalam keterangannya selasa (17/02).
Dalam sentilan kerasnya, Gerakan Muda menegaskan bahwa tewasnya penambang tersebut merupakan rapor merah bagi kepolisian setempat yang ditandai oleh ketidakmampuan mitigasi di lapangan polisi dinilai gagal total dalam melakukan pendekatan persuasif hingga situasi yang seharusnya bisa diredam justru berakhir tragis dengan hilangnya nyawa warga.
Kondisi ini menuntut adanya tanggung jawab komando yang nyata, sebab setiap insiden fatal yang terjadi di lapangan adalah tanggung jawab moral dan profesional Kapolres Parigi Moutong yang tidak bisa cuci tangan begitu saja.
Gerakan Muda mendesak Kapolda Sulawesi Tengah untuk segera mengevaluasi jabatan Kapolres Parimo. Menurut mereka, harus ada konsekuensi logis bagi pimpinan yang tidak mampu menjamin kondusivitas wilayah tanpa mengorbankan nyawa warga.
”Jangan biarkan hukum hanya tajam ke bawah. Jika seorang penambang kecil tewas, pimpinan kepolisiannya tidak boleh tidur nyenyak. Kami menuntut pertanggungjawaban nyata, bukan sekadar kata maaf,” tegasnya menutup pernyataan.

















