BUOL, EKOPOLIS.CO.ID – Program Buol Terang yang diinisiasi oleh Bupati Buol dengan tujuan meningkatkan pelayanan dasar masyarakat melalui perluasan penerangan jalan, khususnya di wilayah pelosok, menuai sorotan publik. Program yang diklaim untuk menciptakan rasa aman dan nyaman ini dinilai belum menyentuh persoalan paling mendasar yang dihadapi masyarakat Buol.
Ketua Umum KAMB-G, Ihlas Butudoka, menegaskan bahwa lahirnya program Buol Terang tidak berangkat dari kebutuhan riil masyarakat di lapangan. Menurutnya, pemerintah daerah terlalu fokus pada penerangan jalan, sementara persoalan utama berupa kerusakan infrastruktur jalan justru dibiarkan berlarut-larut.
“Jika merujuk pada penyampaian Bupati, program ini bertujuan menciptakan situasi aman dan nyaman. Namun sayangnya, itu bukan kebutuhan paling urgen masyarakat saat ini. Jalan-jalan di Kabupaten Buol masih banyak yang rusak parah, bukan hanya di wilayah pelosok, bahkan di perkotaan pun kondisinya memprihatinkan,” tegas Ihlas.
Ia menyoroti kondisi akses transportasi di sejumlah desa yang hingga kini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Salah satunya adalah akses jalan menuju Desa Ummu yang masih rusak dan sulit dilalui, sehingga menghambat mobilitas warga serta aktivitas ekonomi masyarakat.
“Akses transportasi ke Desa Ummu sampai hari ini masih rusak dan nyaris tanpa perhatian pemerintah daerah. Ini menjadi penyesalan sekaligus pertanyaan besar bagi kami: di mana letak prioritas pembangunan itu?” ujarnya.
Menurut Ihlas, Buol Terang bukanlah solusi konkret jika tidak dibarengi dengan perbaikan infrastruktur jalan. Ia mempertanyakan logika pembangunan yang mendahulukan penerangan tanpa memastikan jalan tersebut layak digunakan.
“Untuk apa jalan diterangi lampu jika jalannya sendiri rusak? Apakah lampu itu hanya untuk menerangi jalan berlubang agar kecelakaan bisa terlihat jelas? Di mana kenyamanan yang benar-benar dirasakan masyarakat?” kritiknya.
Ia menambahkan bahwa tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Buol lebih disebabkan oleh kondisi jalan yang buruk, bukan semata-mata karena kurangnya penerangan.
“Menurut saya, kecelakaan sering terjadi bukan karena gelap, tetapi karena jalan yang tidak layak. Maka seharusnya pemerintah lebih memfokuskan program pada perbaikan jalan, terutama di wilayah pelosok,” lanjutnya.
Ihlas menegaskan bahwa program Buol Terang pada dasarnya merupakan gagasan yang baik, namun penerapannya dinilai keliru dalam menentukan skala prioritas pembangunan.
“Program ini bisa menjadi solusi, tapi bukan sekarang dan bukan tanpa perbaikan jalan terlebih dahulu. Menerangi jalan yang rusak bukanlah cara untuk meminimalisir kecelakaan, itu hanya memperindah masalah tanpa menyelesaikannya,” pungkas Ihlas.

















