EKOPOLIS.CO.ID – Peringatan hari ulang tahun ke-62 Sulawesi Tengah menjadi momentum penting untuk mengevaluasi arah pembangunan daerah. Di tengah capaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi, persoalan ketimpangan dan kualitas pembangunan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh signifikan. Data Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan sempat menembus dua digit, melampaui rata-rata nasional. Sektor industri pengolahan, khususnya hilirisasi nikel di kawasan Morowali, menjadi motor utama.
Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Angka kemiskinan masih relatif tinggi di sejumlah wilayah, terutama di pedesaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum inklusif.
Ketimpangan antarwilayah juga semakin terlihat. Kawasan industri seperti Morowali dan Morowali Utara berkembang pesat, sementara daerah lain seperti Tojo Una-Una dan Banggai Kepulauan masih tertinggal dalam infrastruktur dan layanan dasar.
Ketimpangan dan Tata Kelola Jadi Sorotan
Masalah ketimpangan ekonomi menjadi isu utama. Distribusi pendapatan yang belum merata berpotensi memicu kecemburuan sosial. Pembangunan yang terpusat di kawasan industri dinilai menciptakan kesenjangan baru.
Di sisi lain, tata kelola sumber daya alam juga masih menghadapi tantangan. Praktik pertambangan ilegal, konflik lahan, serta kerusakan lingkungan menunjukkan lemahnya pengawasan. Padahal, Sulawesi Tengah memiliki potensi besar di sektor tambang, kehutanan, dan kelautan.
Transparansi perizinan serta penegakan hukum dinilai perlu diperkuat. Selain itu, pelibatan masyarakat lokal dan penerapan prinsip keberlanjutan menjadi hal yang mendesak.
Kualitas SDM dan Lingkungan Belum Optimal
Ledakan investasi belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Banyak tenaga kerja industri masih didominasi dari luar daerah. Hal ini dipengaruhi keterbatasan keterampilan tenaga kerja lokal.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) memang meningkat, namun masih tertinggal dibanding beberapa provinsi lain. Pendidikan vokasi dan pelatihan kerja berbasis industri dinilai perlu diperkuat.
Selain itu, risiko lingkungan dan bencana juga menjadi perhatian. Tragedi Gempa dan tsunami Palu 2018 menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana. Aktivitas industri juga berpotensi meningkatkan kerusakan lingkungan jika tidak diawasi ketat.
Diversifikasi Ekonomi dan Tata Kelola Bersih
Ketergantungan pada sektor tambang dinilai berisiko dalam jangka panjang. Diversifikasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak, termasuk pengembangan sektor pariwisata, perikanan, dan UMKM.
Potensi wisata seperti Kepulauan Togean dapat menjadi alternatif sumber pertumbuhan baru. Hilirisasi produk lokal juga dinilai mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
Selain itu, tata kelola pemerintahan yang bersih menjadi kunci. Transparansi anggaran, penguatan pengawasan, dan digitalisasi sistem keuangan daerah perlu diprioritaskan.
Menentukan Arah Pembangunan
Di usia ke-62, Sulawesi Tengah berada di persimpangan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi peluang, namun ketimpangan dan tata kelola yang lemah menjadi tantangan serius.
Momentum ini menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan. Pemerataan, keberlanjutan, dan keadilan harus menjadi arah utama kebijakan ke depan.














