Gorontalo, Ekopolis.co.id – Di tengah penyampaian kata penutup Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman, di Aula IAIN Sultan Amai Gorontalo, satu suara dari megafon memaksa Menteri menghentikan pidatonya. Bukan teriakan protes, tapi jeritan nurani dari Popayato Barat. Sabtu (20/6)
Gusnar Rupu, Kabid Humas PPMPB-G [Persatuan Pelajar Mahasiswa Popayato Barat Gorontalo], memilih cara yang tidak biasa. Saat Menteri Amran sedang menutup acara, ia bangkit dari bangku paling belakang, menggenggam megafon, dan memecah keheningan aula yang dipenuhi ratusan mahasiswa, akademisi, dan tamu undangan.
Langkah itu sempat membuat aula menahan napas. Megafon identik dengan aksi massa. Tapi malam itu, megafon berubah jadi jembatan dialog.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya mahasiswa Gorontalo wilayah barat, izin Pak Menteri,” suara Gusnar menggema. Menteri Amran awalnya tampak bingung dengan kondisi yang tiba-tiba, menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum tenang dan mempersilakan pemuda itu maju ke depan tanpa ragu.
Berdiri tepat di hadapan Menteri, Gusnar membuka suara untuk ratusan petani di Popayato Barat, kecamatan paling ujung di Kabupaten Pohuwato yang harus ditempuh enam jam perjalanan darat dari Kota Gorontalo. Ia menyoroti ironi: lahan subur terbentang, tapi lima hektare sawah milik warga masih tidur.
“Pak Menteri, di Popayato Barat masih ada sekitar lima hektare sawah petani yang belum bisa digarap maksimal karena kami kekurangan alat berat. Kondisi geografis kami yang jauh dari pusat kota membuat distribusi bantuan pertanian sering terlambat sampai ke petani. Padahal musim tanam tidak bisa menunggu. Kalau terlambat olah lahan, satu musim panen hilang. Kami mohon perhatian dan dukungan Bapak agar petani kami bisa segera mengolah lahan dan meningkatkan hasil panen demi ketahanan pangan,” tegas Gusnar, suaranya jelas terdengar hingga barisan belakang.
Menteri Amran tidak menunda. Ia mendengarkan dengan saksama, mengangguk, lalu menjawab langsung di depan forum. “Saya catat. Nanti tim saya akan koordinasi dengan dinas pertanian setempat untuk pastikan alat berat sampai ke Popayato Barat. Petani tidak boleh menunggu terlalu lama,” ujar Menteri Amran disambut tepuk tangan meriah peserta.
Bagi PPMPB-G, langkah Gusnar menyampaikan aspirasi langsung ke Menteri dilatarbelakangi kondisi di lapangan. Selama ini wilayah Popayato Barat, sebagai daerah paling ujung di Pohuwato, masih kurang mendapat perhatian dari anggota legislatif daerah. Karena itu PPMPB-G mengambil langkah konstruktif untuk membawa suara petani langsung ke pemangku kebijakan pusat.
“Suara petani Popayato Barat malam ini sudah sampai ke telinga Menteri. Tugas kami sekarang mengawal sampai alat berat itu benar-benar turun ke sawah. PPMPB-G tidak akan berhenti sampai petani kami bisa bertani tanpa hambatan,” ujar Gusnar.
PPMPB-G merupakan organisasi kemahasiswaan yang menghimpun pelajar dan mahasiswa asal Popayato Barat yang menempuh pendidikan di Gorontalo. Sejak berdiri, PPMPB-G aktif menjadi corong aspirasi masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan pertanian, sebagai sektor utama penghidupan warga Popayato Barat.
PPMPB-G berkomitmen mengawal proses tindak lanjut dari Kementerian Pertanian hingga bantuan benar-benar dirasakan petani di lapangan.


















