POHUWATO – Mahasiswa Posko Kuliah Kerja Dakwah (KKD) Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) mendorong pemanfaatan potensi ikan bandeng di Desa Siduwonge, Kabupaten Pohuwato, menjadi produk olahan bernilai ekonomi.
Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan kerupuk ikan bandeng Siduwonge yang dirangkaikan dengan edukasi pengemasan dan pemasaran produk UMKM.
Kegiatan berlangsung pada Senin (27/7/2026) mulai pukul 13.00 WITA hingga selesai. Lokasinya berada di Gedung Posyandu Desa Siduwonge.
Pelatihan tersebut melibatkan pelaku UMKM, anggota Tim Penggerak PKK, kader kesehatan, aparat desa, pengurus BUMDes, serta anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Siduwonge.
Mahasiswa KKD UMGO juga menggandeng Kepala Bidang Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Kabid Perindagkop) Kabupaten Pohuwato sebagai pemateri.
Olah Bandeng Jadi Produk Bernilai Tambah
Kegiatan ini berangkat dari potensi tambak Desa Siduwonge yang menghasilkan ikan bandeng cukup melimpah.
Selama ini, sebagian hasil panen warga masih dijual dalam bentuk ikan mentah. Kondisi tersebut membuat nilai tambah ekonomi dari hasil tambak belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKD UMGO memperkenalkan alternatif pengolahan bandeng menjadi kerupuk.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi. Mereka juga mengikuti praktik secara langsung.
Warga diajak mengolah daging ikan bandeng menjadi adonan kerupuk. Proses tersebut dilanjutkan hingga produk siap digoreng dan dikemas.
Praktik langsung ini diharapkan membuat peserta lebih mudah memahami tahapan produksi.
Warga Belajar Kemasan dan Strategi Pemasaran
Selain pengolahan produk, peserta mendapatkan materi tentang pengemasan dari Perindagkop Kabupaten Pohuwato.
Materi mencakup penggunaan kemasan standing pouch yang higienis dan menarik. Peserta juga diperkenalkan pada pentingnya label sebagai identitas dan branding produk.
Pemateri turut menjelaskan cara menghitung Harga Pokok Produksi (HPP). Pengetahuan tersebut penting untuk menentukan harga jual yang sesuai dengan biaya produksi dan kondisi pasar.
Materi pemasaran juga menjadi bagian dari pelatihan.
Warga diperkenalkan pada pemasaran melalui media sosial. Mereka juga diarahkan memanfaatkan jalur distribusi konvensional, seperti warung dan jaringan usaha di tingkat lokal.
Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada kemampuan memproduksi kerupuk. Warga juga mendapatkan pengetahuan dasar untuk mengemas dan menjual produk.
Mahasiswa Serahkan Sampel Produk
Sebagai luaran kegiatan, mahasiswa KKD UMGO menyerahkan sampel kerupuk ikan bandeng yang telah dikemas.
Produk tersebut menjadi contoh hasil akhir yang dapat dikembangkan kembali oleh masyarakat.
Sampel juga memperlihatkan bagaimana ikan bandeng dapat diolah menjadi produk UMKM dengan kemasan yang lebih menarik.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung.
Salah seorang peserta mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari pelatihan tersebut. Selama ini, warga belum banyak mengetahui cara mengolah hasil tambak menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.
Pelatihan dinilai membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
Mahasiswa KKD UMGO berharap keterampilan yang diberikan dapat diterapkan secara mandiri oleh warga setelah kegiatan berakhir.
Pengembangan kerupuk ikan bandeng juga diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif produk UMKM Desa Siduwonge.
Dengan pengolahan, kemasan, branding, dan pemasaran yang baik, potensi ikan bandeng tidak hanya berhenti sebagai komoditas mentah.
Produk tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari usaha masyarakat dan sumber nilai tambah ekonomi desa.













